Penelitian melalui citra satelit mengungkap bencana Sumatera menyebabkan kematian 34-54 individu orangutan tapanuli. Bencana ekologis itu merusak rumah terakhir orangutan tapanuli di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara. Jika tidak ada langkah konservasi darurat, orangutan tapanuli akan menjadi spesies kera besar pertama yang punah dalam sejarah modern.
Hal itu menjadi kesimpulan jurnal penelitian berjudul ”Peristiwa Curah Hujan Ekstrem di Sumatera Menyebabkan Kehilangan Habitat yang Kritis dan Dampak Mematikan bagi Orangutan Tapanuli yang Terancam Punah” yang dipublikasikan 14 peneliti di preprints.org, Senin (15/12/2025).
Penelitian itu menyimpulkan, bencana banjir dan longsor menimbulkan guncangan besar pada populasi orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang saat ini berstatus sebagai spesies di ambang kepunahan akibat hilangnya habitat.
”Tanpa intervensi segera, orangutan Tapanuli menghadapi risiko yang sangat besar untuk menjadi spesies kera besar pertama yang punah dalam sejarah modern,” kata para peneliti dalam jurnal tersebut.
Peneliti antara lain Panut Hadisiswoyo dari Orangutan Information Center, Jatna Supriatna dari Departemen Biologi Universitas Indonesia, dan Edvin Adrian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional bidang Meteorologi dan Klimatologi.
Dari Borneo Futures Brunei Darussalam, ada Erik Meijaard, Muiz Wafiy, Safwanah Ni’Mattulah, dan Rona Dennis. Peneliti lainnya berasal dari University of Kent UK, Imperial College London, Wageningen University & Research, Liverpool John Moores University, Senckenberg Museum für Naturkunde Germany, The TreeMap France, dan University of Antwerp Belgia.
:quality(75)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/12/13/d759294c3cdd96df52be905c7540db4c-WhatsApp_Image_2025_12_13_at_10.18.05_98fac376.jpg)
Banjir bandang dan longsor dipicu oleh curah hujan Sumut lebih dari 1.000 milimeter hanya dalam empat hari. Hujan lebat memicu tanah longsor dan banjir di Blok Barat Ekosistem Batang Toru, habitat inti 581 individu orangutan tapanuli.
Analisis awal menunjukkan 3.964 hektar hutan yang sebelumnya utuh tiba-tiba tersapu oleh tanah longsor dan banjir. Luas kerusakan bertambah 2.487 hektar setelah dilakukan ekstrapolasi (memprediksi luas dari pola yang ada) dari area yang tertutup awan saat dilakukan pengamatan melalui citra satelit.
Hasil penelitian menunjukkan 33-54 individu kemungkinan mati akibat tanah longsor, pohon tumbang, atau banjir.
:quality(75)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/12/17/4786306ff556968cb0bcda871a798366-2025_12_17_21_.png)
Kematian tersebut mencakup 6,2-10,5 persen dari populasi di Blok Barat. Mengingat bahwa tingkat kematian tahunan melebihi 1 persen sudah cukup untuk mendorong spesies ini menuju kepunahan, kematian akibat bencana tersebut telah menimbulkan guncangan demografis yang kritis pada populasi orangutan tapanuli.
Para peneliti menyerukan kepada Pemerintah Indonesia dan masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan dan memberikan dukungan guna memastikan kelangsungan hidup orangutan tapanuli.
Pemerintah didesak untuk memberlakukan perlindungan darurat, menghentikan pembangunan yang merusak habitat, memperluas kawasan lindung untuk memulihkan hutan dataran rendah yang penting, serta memberikan dukungan finansial dan teknis yang penting dari masyarakat global.
Orangutan tapanuli diakui sebagai spesies berbeda dari orangutan sumatera pada 2017. Orangutan tapanuli pun menjadi spesies kera besar dengan populasi terkecil, kurang dari 800 individu di alam liar.
:quality(75):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2025/12/04/59985cc6-f422-46fd-b058-8be426c146cd.jpg)
Orangutan tapanuli tersebar di tiga populasi terisolasi di hutan Batang Toru, yakni di Blok Barat, Blok Timur, dan Blok Selatan Sibual-Buali. Populasi menghadapi fragmentasi dan degradasi habitat. Populasi terbesar berada di Blok Barat Batang Toru yang kini rusak karena bencana.
Secara keseluruhan, Ekosistem Batang Toru terbentang seluas 240.985,21 hektar di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, hingga Kota Sibolga. Empat daerah itu menjadi daerah dengan dampak bencana paling besar di Sumut.
Pemetaan tanah longsor dan pengikisan tanah oleh banjir dilakukan menggunakan citra dari Sentinel-2 dan PlanetScope. Citra satelit dari Sentinel-2 pada 3 Desember 2025 memetakan 3.964 hektar tanah gundul akibat banjir dan longsor. Kerusakan ini mencakup 5,76 persen dari total area studi seluas 71.161 hektar.
Secara khusus, penelitian tersebut merekomendasikan moratorium segera terhadap kegiatan penggunaan lahan yang merusak habitat yang tersisa, memperluas kawasan lindung di sekitar Blok Barat dan koridor utama, serta melakukan penilaian habitat dan populasi orangutan secara rinci.
Pemerintah juga didorong untuk merestorasi hutan dataran rendah untuk pemulihan jangka panjang, menetapkan ekosistem Batang Toru sebagai kawasan strategis nasional untuk perlindungan hukum jangka panjang, serta memastikan perencanaan tata ruang nasional memprioritaskan ekosistem dan ketahanan iklim dibandingkan industri ekstraktif dan infrastruktur.
Lanskap Batang Toru tidak hanya berfungsi sebagai habitat keanekaragaman hayati yang penting, tetapi juga penyangga iklim dan sumber air bagi jutaan orang.
Kematian orangutan tapanuli dalam bencana Sumatera sebelumnya juga terkonfirmasi dengan temuan bangkai orangutan. Tim SAR gabungan menemukan bangkai orangutan tapanuli di Desa Pulo Pakkat, Tapanuli Tengah, Kamis (11/12/2025).
:quality(75)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/c58e9e38-9d35-490e-9d15-0182253d8090_jpg.jpg)
”Pascabencana, kami tugaskan personel dan kolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat untuk memantau satwa liar,” kata Kepala Bidang Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Wilayah III Padang Sidimpuan Susilo Ari Wibowo.
Bencana banjir dan longsor pada November lalu mengungkap kerentanan orangutan tapanuli terhadap kehilangan populasi dan penurunan kualitas habitat.
Bagi orangutan tapanuli, yang kelangsungan hidupnya bergantung pada tingkat kematian mendekati nol dan habitat yang stabil dan berkualitas tinggi, skala kerusakan habitat yang terungkap menunjukkan perlindungan yang ada tidak cukup untuk kelangsungan hidup jangka panjang.
Berita dan gambar dalam artikel ini merupakan republikasi dari kompas.id. Klik di sini untuk membaca dari sumber awal.